Minggu, 03 Maret 2013


DEFEK-DEFEK YANG DISEBABKAN OLEH SIFAT ALAMI
DARI KULIT HEWAN
A.    Pengaruh Jenis Bangsa pada Kulit Hewan
Berbagai sifat buruk pada kulit hewan dapat disebabkan oleh faktor jenis bangsa hewan itu. Kulit lembu dan domba ternyata mempunyai sifat buruk lebih banyak disbanding dengan kulit samak sapid an kambing. Kulit yang baik untuk industri penyamakan pada umumnya adalah yang montok, padat, serta struktur seratnya seragam. Kulit yang montok biasanya disamak untuk membuat sol sepatu, sabuk dan produk lainnya yang memerlukan kulit tebal dan berat.
Kulit yang bersifat meluas, meskipun tidak termasuk dalam golongan yang baik mempunyai arti penting kaarena factor utama yang menentukan adalah jenis bangsanya.
Kulit domba, beberapa jenis bangsa domba tertentu, kulitnya tidak baik. Domba yang diternak untuk produksiwol halus, kulitnya tipis, banyak lubang-lubang kecil serta ada gambaran iganya sehingga hanya dapat digunakan untuk kulit samak yang termurah saja.
Kulit kambing, meskipun antara jenis bangsa kambing terdapat variasi pada rajah, bobot dan tebal kulit, klasifikasi yang berlaku adalah tingkat mutu rajahnya yaitu rajah halus, rajah sedang dan rajah kasar. Klasifikasi cara ini dipengaruhi oleh umur hewan waktu disembelih. Semakin tua hewan akan semakin kasar rajah kulitnya. 
B.     Iklim
Iklim dapat mempengaruhi substansi kulit hewan dan rajah dari kulit samak yang dihasilkan. Pada umumnya hewan yang dipelihara didaerah beriklim panas mempunyai rambut atau wol yang pendek dan kulit samak yang dihasilkan bermutu tinggi, dengan gambaran rajahnya yang halus dan licin, sedangkan hewan yang dipelihara didaerah beriklim dingin mempunyai rambut atau wol yang lebih panjang dan hasil kulit samaknya kan menurun mutunya dengan gambaran rajah lebih kasar.
C.     Makanan
Pengaruh makanan terhadap keehatan hewan, sangat besar. Demikian pula tehadap sifat dan kualitas kulitnya. Hewan yang mendapat makanan yang bergizi rendah akan menjadi relatif kecil dan kulitnyapun akan tipis dankurang substansinya.
Kerusakan kulit oleh gizi rendah, banyak terjadi pada kambing dibandingkan dengan hewan lainyang karena pada umumnya kambing-kambing yang dipelihara secara bebas di padang rumput yang kurang subur. Akibanya, banyak kulit kambing yang tidak baik untuk berbagai produk kulit samak.
D.    Rajah Keriput
Rajah keriput adalah suatu keadaan kulit samak yang berkeriput pada rajahnya bila kulit itu dilipat dengan rajah kedalam dan dilepas lagi. Rajah dengan lebih keriput yang halus disukai karena tidak Nampak terlalu buruk, dengan demikian para penyamak kulit atas, berusaha keras untuk membuat kulit yang keriputnya sehalus mungkin.
Meskipun keadaan keriput tersebut dapat dipengaruhi oleh cara penyamakan, karakteristik kulit pun memegang perannan penting. Umpamanya daerah krupon berajah keriput lebih halus daripada daerah pundak dan daerah perut.
E.     Rajah Berlekuk
Yang dimaksud rajah berlekuk adalah lekukan oleh lemak dan lekuk leher, atau lebih tepat rajah berlekuk merupakan salah satu sifat karakteristik dan rajah berlekuk kulit sering kali masih terdapat pada kulit samak.
F.      Pengaruh musim pada kulit
Didaerah beriklim dingin pada waktu-waktu hewan dipotong dalam suatu musim dapat mempengaruhi kualitas kulit. Pengaruh musim ini sedikit banyaknya berkorelasi dengan faktor-faktor diet, cuaca dan infasi parasite.
Kulit yang dikuliti dalam bulan Juli, Agustus dan September di Amerika Serikat dianggap hasil kulit yang terbaik, karenakulit tersebut akan mempunyai substansi kulit yang relative lebih banyak serta mempunyai rambut yang relatif lebih sedikit daripada kulit-kulit yang dihasilkan dalam musim dingin.
Kulit musim dingin akan menghasilkan kulit samak yang rajahnya lebih kasar. Ini disebabkan karena pertumbuhan bulunya akan diperhebat. Rajah kasar demikian dapat pula sama kondisinya dengan oatmeal grain pada pedet yang dipotong dalam musim dingin.
G.    Pengaruh Jenis Kelamin dan Umur Pada Kulit
Pada kulit sapi-sapi jantan, terutama yang tua, mempunyai kulit yang tebal pada kepala dan bahu, sehingga dapat menimbulkan kesulitan pada waktu menanganinya. Umur hewan selain mempengaruhi sifat-sifat alami kulitnya, juga dapat menurunkan mutu secara langsung, karena semakin tua akan semakin banyak mengalami luka-luka, sehingga akan semakin banyak pula tenunan parutnya, bekas luka oleh penyakit parasit, guratan, cap bakar dan sebagainya. Jadi kulit hewan tua mungkin saja merupakan bahan baku yang bermutu sangat rendah untuk disamak.

Jumat, 01 Maret 2013


Whey Dangke
Dangke merupakan makanan khas masyarakat Kabupaten Enrekang. Kabupaten Enrekang merupakan sentra pengolahan dangke di Propinsi Sulawesi Selatan. Sekitar 6000 liter susu perhari diolah menjadi dangke (Dinas Peternakan, 2010). Dangke merupakan produk olahan susu sejenis keju lunak tanpa dilakukan proses fermentasi. Berdasarkan kandungan airnya, dangke merupakan keju lunak (soft cheese)(Ridwan, 2004).
Dangke dibuat dari susu yang dipanaskan.  Susu selanjutnya ditambahkan getah pepaya untuk memisahkan curd  dan whey (Djide, 1991). Getah pepaya mengandung papain yang merupakan salah satu jenis enzim proteolitik. Enzim ini tergolong protease sulfihidril (Winarno, 1995; Muchtadi et al., 1992).  Papain akan memutus ikatan peptida pada residu asparagin-glutamin, glutamat-alanin, leusin-valin dan fenilalanin-tirosin (Godfrey and Reichet, 1986). Papain akan bekerja secara optimal tergantung dari konsentrasi yang diberikan (Nurhidayati, 2003).
Whey susu didefinisikan sebagai serum atau bagian air dari susu yang tersisa setelah pemisahan curd dan merupakan hasil koagulasi protein susu dengan asam atau enzim proteolitik (Panesar et al., 2007).  Setiap 10 liter susu yang digumpalkan selama proses pengolahan keju akan menghasilkan sekitar 6 - 9 liter whey yang tergantung pada tipe keju (Almeida et al., 2008).  Whey hasil samping proses pembuatan keju mengandung 6,5% padatan yang terdiri atas 4,8% laktosa, 0,6% protein, 0,6% mineral, 0,15% asam laktat, 0,25% nitrogen non protein dan 0,1% lemak (Handayani, 2004). Komponen dan komposisi protein whey susu dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Fraksi protein whey susu sapi
Fraksi
Kandungan
(g/l)
Total Protein Susu (%w/w)
Total whey protein
6,0
19,3
β-laktoglobulin
3,2
10,0
α-laktalbumin
1,2
3,1
Serum albumin
0,3
1,2
Immunoglobulin
0,7
2,0
Laktoferin, lisosim & laktoperoksidase
0,8
2,4
Mazza (1998)
Whey merupakan salah satu sumber protein dari produk peternakan, yakni dari susu sapi -yang dapat dimanfaatkan untuk bahan pangan yang penting bagi manusia.http://www.livestockreview.com/wp-content/uploads/2011/07/keju-dan-whey-217x300.jpg
Whey adalah hasil sampingan dari produksi keju yang tadinya pada waktu sebelumnya tidak dimanfaatkan, hanya dibuang begitu saja.
Namun saat ini,protein whey telah dimanfaatkan seluas-luasnya oleh industri makanan dan minuman. Whey termasuk dalam salah satu ingridien fungsional. Whey merupakan protein susu yang sulit digumpalkan. Jadi, ketika sebuah industri membuat keju misalnya, yang menggumpal adalah protein susu yang disebut kasein. Adapun protein lain, yakni whey tidak atau sulit digumpalkan. Maka, whey jaman dulu kerap dianggap sebagai hasil samping pembuatan keju.
Kini, berbagai riset membuktikan manfaat whey protein cukup besar, di antaranya sebagai antioksidan, antikarsinogenik, dan sekarang whey protein digunakan sebagai asupan utama untuk membangun otot tubuh. Whey juga banyak digunakan sebagai ingridien processed food seperti untuk baso, nugget, sosis, atau aneka snack.
Penggunaan whey protein juga lebih banyak ditujukan kepada konsumen yang memiliki perhatian yang lebih terhadap kesehatan, karena melihat dari sifat produk ini yang memang merupakan bahan baku produk makanan dan minuman yang memiliki aneka manfaat kesehatan karena kandungan berbagi zat gizi di dalamnya.

Umumnya industri susu tradisional tidak mempunyai sistem perlakuan yang tepat untuk membuang whey. Potensi pangan dan energi whey akan hilang apabila tidak dimanfaatkan, mengingat whey mengandung sekitar 55% total nutrisi dari susu (Vinderola et al., 2000). Disamping itu menurut Almeida et al. (2008), pembuangan whey ke lingkungan dapat menyebabkan polusi lingkungan sekitar karena whey dapat menyebabkan pengaruh kuat terhadap lingkungan. Whey memiliki konsentrasi bahan organik terlarut seperti protein dan sumber energi ke lingkungan. Nilai BOD (Biochemical oxygen Demand) whey berbeda-beda dari 30.000 - 50.000 mg/g tergantung pada buangan susu dalam whey. Vinderola et al. (2000), Staszewski and Jagus (2008) menyatakan bahwa pengolahan limbah whey dibutuhkan sebagai solusi terhadap pencegahan pencemaran lingkungan dan sekaligus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesehatan manusia. Teknologi pengolahan biologi sangat membantu dalam pengamanan limbah whey. Metode ini membutuhkan biaya yang besar untuk pelaksanaannya dan menjadi kendala penggunaan untuk industri tradisional.
Salah satu cara untuk mengatasi agar whey tidak terbuang percuma  yang dapat menimbulkan polusi lingkungan maka whey seharusnya diolah menjadi produk yang bermanfaat serta bernilai ekonomis tinggi. Kandungan laktosa dan nutrisi essensial whey merupakan substrat yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Hal tersebut menjadi pertimbangan untuk menghasilkan produk dengan memanfaatkan mikroorganisme (Vinderola  et al., 2000).
Whey susu sapi mengandung sekitar 20% protein dari total protein yang ada pada susu (Tabel 1). Naim (2008), Madureira et al. (2007) dan Fardiaz (1992) mengemukakan bahwa laktoferin merupakan glikoprotein pengikat zat besi yang kebanyakan dibutuhkan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Laktoferin memiliki potensi untuk menghambat (bakteriostatik) hingga membunuh (bakteriolisis) bakteri dengan menghambat kebutuhan zat besinya. Laktoferin umumnya bersifat bakteriostatik terhadap sejumlah mikroorganisme, terutama bakteri Gram negatif dengan kebutuhan zat besinya yang tinggi, dan juga beberapa Gram positif seperti Staphylococcus aureus dan Listeria monocytogenes. Lisosim memiliki aktivitas antibakterial terhadap sejumlah bakteri. Senyawa tersebut akan membunuh bakteri dengan disrupsi pembentukan ikatan glikosidik di antara dua komponen peptidoglikan yang terdapat pada dinding sel bakteri. Laktoperoksidase memiliki potensi untuk menghambat hingga membunuh bakteri dengan mengoksidasi kelompok sulfhidril membran sel. Laktoperoksidase umumnya bersifat bakteriostatik terhadap bakteri Gram positif dan bersifat bakteriolisis terhadap bakteri Gram negatif.  Naim (2008) lebih lanjut mengemukakan bahwa bakteri asam laktat dalam lambung dan intestin memiliki kebutuhan besi yang rendah dan secara umum tidak terpengaruh oleh laktoferin.

Kamis, 28 Februari 2013


TELUR MENJADI UNGGAS

          Telur pada unggas mengandung banyak zat-zat makanan untuk persediaan perkembangbiakan embrio pada masa penetasan. Telur tidak ubahnya susu pada mamalia adalah hasil sekresi dari sistem reproduksi dan mekanisme endokrin, metabolik dan kimia faali. Bertelur sama dengan mekanisme laktasi. Telur unggas lebih besar dari pada telur mamalia, karena telur unggas harus mengandung makanan untuk perkembangan embrionik selama pertumbuhan di luar tubuh induk. Embrio unggas sangat tergantung pada zat makanan yang terdapat dalam telur. Karena itu lemak dari sudut kalori lebih pekat dari pada gula, maka telur lebih kaya akan lemak dari pada gula (dibandingkan dengan susu) (Anggorodi, 1984).

1. Yolk / Kuning telur 
Kuning telur terdiri dari badan berbentuk bola besar, dari 25 sampai 150 μm garis tengah, yang terbagi-bagi adalah dalam suatu tahapan yang berkelanjutan. Yolk yang kecil ukurannya sangat kecil diperkirakan berdiameter sekitar 2 μm. Kuning telur berisi hanya sekitar 50% air. Sisa terdiri dari protein dan lipid dengan perbandingan 1: 2; lipid yang ada dalam bentuk lipoprotein (Bell dan Freeman, 1971).
Lebih lanjut menyatakan pada umumnya sintesis protein kuning telur berasal dari hati atas rangsangan hormon oestrogen. Kemudian diangkut oleh darah nemuju indung telur (ovarium).
Dalam ovarium ayam petelur mengandung 1000 sampai 3000 folikel, ukurannya sangat bervariasi dari ukuran mikrokopik sampai sebesar satu kuning telur. Kuning telur yang lebih kecil mulai tumbuh dengan cepat sekitar 10 hari sebelum dilepaskan ke dalam infundibulum. Kuning telur diliputi oleh suatu membran folikuler, yang menempelkannya pada ovari. Membran ini memiliki suatu bagian yang terlihat hanya sedikit mengandung pembuluh darah. Bagian atau daerah itu disebut stigma. Inilah tempat dimana kuning telur robek dan melepaskan ovum pada saat ovulasi. Karena zat-zat makanan disalurkan melalui membran folikuler dari aliran darah menuju ke ovum, sejumlah darah kadang-kadang dilepaskan bersama-sama kuning telur itu karena tempat pecahnya tidak selalu tepat pada stigma. Inilah yang kadang menyebabkan munculnya suatu blood spot di dalam telur (James Blakely dan David, 1985).

2. Reproduksi pada ayam 
Pola reproduksi pada ayam berbeda dengan mamalia terutama beberapa segi yang terpenting, ayam bertelur dengan berirama bertelur, yaitu bertelur satu atau lebih pada hari yang berurutan, kemudian diikuti satu hari istirahat. Ayam yang prolefik bertelur 5 butir atau lebih dalam satu irama bertelur (clutch).
Timbulnya clutch dikarenakan pembentukan telur diburuhkan total waktu 25 – 26 jam dan ovulasi berikutnya pada clutch yang sama terjadi 30 – 60 menit setelah ovulasi telur sebelumnya. Jadi karena ovulasi tidak terjadi secara teratur setiap siklus 24 jam, maka waktu ovulasi hari berikutnya pada clutch yang sama akan terlambat (Nalbandov, 1990). 

3. Pengendalian Hormon Bertelur. 
Reproduksi burung adalah yang berkaitan dengan sistem pengendalian pada ayam yang sedang bertelur, yang disebut hierarki folikuler yakni gradasi berat dan ukuran folikel. Hanya satu folikel yaitu yang terbesar yang menjadi masak dan di ovulasikan dalam waktu satu hari, segera setelah folikel ini pecah, kemudian nomor 2 terbesar tumbuh menjadi besar, demikian seterusnya peristiwa tersebut terjadi berurutan. 
Rincian permainan hormonal antara ovarium dengan sistem hipotalamus-hipofiseal unggas semuanya jelas, kecuali kita ketahui benar-benar ialah bahwa ovarium burung secara total tergantung pada hormon Gonadotrofik yang berasal dari pituitari. Telah diketahui bahwa hipotalamus dalam pengendalian pelapisan LH dan FSH hipofisa. Diakuinya hipotalamus melalui cara pembedahan, tepatnya pada nuklei praoptik di daerah paraventrikuler, ternyata dapat menghentikan ovulasi (Nalbandov, 1990).

4. Oviduk.
 Setelah ovulasi ovum ditangkap oleh fimbria dan masuk kedalam infundibulum kuning telur akan berdiam kurang lebih selama ¼ jam dan dibagian ini terjadi pertemuan dengan sel jantan, setelah itu diteruskan ke magnum (Rasyaf, 1992). Lebih lanjut Nalbandov, (1990) menuliskan bahwa disini telur menerima lapisan albumen. Sekresi albumen pada magnum yang dikontrol oleh dua hormon. Hormon estrogen yang fungsi utamanya menyebabkan perkembangan anatomi dan perkembangan kelenjar seluruh oviduk, tetapi estrogen saja tidak dapat menyebabkan pembentukan calon albumen dalam kelenjar, atau sekresi albumen sendiri ke dalam lumen magnum. Hormon yang kedua dibutuhkan untuk kepentingan kedua-duanya, baik pembentukan atau sekresi albumen. 
Androgen dan progesteron yang kedua-duanya beraksi terhadap magnum yang berkembang karena estrogen, dapat menyebabkan pertumbuhan granula albumen dan pelepasan granula ini ke dalam lumen. Setelah pertumbuhan magnum yang di prakarsai oleh estrogen dan pembentukan granula albumen yang disebabkan baik androgen ataupun progesteron, satu peristiwa lagi masih tertinggal yaitu sekresi albumen kedalam lumen. Hal ini biasanya terpicu oleh adanya benda asing di magnum , apakah itu ovum ataukah benda asing yang berada dalam magnum. 
Setelah mendapat albumen dalam perjalanan di magnum selama 2,5 jam atau 3 jam, telur bergerak ke isthmus, disini disekersikan kerabang lunak. Bagian oviduk ini secara histologis berbeda dengan magnum tetapi dikontrol oleh hormon yang sama, yang beraksi dengan cara yang sama dan dalam rangkaian tahap yang sama, seperti yang terjadi pada magnum. James Blakely dan David, (1985)mengemukakan di daerah isthmus mendapat pelapisan membran yaitu membran luar dan membran dalam, dalam keaadaan normal masing-masing membran menempel, kecuali pada suatu tempat dimana membran tersebut berpisah yaitu pada ujung tumpul telur. Perpisahan kedua membran tersebut membentuk suatu rongga udara. Telur tinggal di isthmus selama kurang lebih 1,5 jam dan setelah menerima kerabang lunak dan air, dikuatkan oleh Rasyaf (1992) dibagian ini ditambahkan pula Natrium, Kalsium dan garam. Telur tersebut bergerak ke kelenjar kerabang atau yang dinamakan pula uterus, telur tinggal di daerah ini selama kurang lebih 22 jam, dan kerabang kapur disekresikan menyelubungi (Nalbandov, 1990). 
Tabel 1. Rataan panjang bagian pembentukan telur dan lama waktu proses berjalan
Bagian
Panjang (cm)
Waktu (jam)
Infundibulum
11,0
0,25
Magnum
33,6
3,00
Isthmus
10,6
1,25
Uterus
10,1
20,15
Vagina
6,9
0,15
Sumber : Rasyaf 2003

5. Pengeluran Telur (Oviposisi). 
Dalam kondisi normal telur dibentuk bagian tumpul terlebih dahulu. Jika induk tidak terggangu pada saat bertelur, sebagian besar telur akan dikeluarkan dengan ujung tumpul lebih dulu. Hal ini tidak diketahui secara pasti sebabnya, tetapi diketahui bahwa sesaat sebelum dikeluarkan, telur diputar secara horisontal (tidak ujung ke ujung), 180 derajat sesaat sebelum telur itu dikeluarkan. Ovulasi pada ayam secara normal terjadi 30 menit setelah telur dikeluarkan. Interval waktu dapat bervariasi antara 7 sampai 74 menit (James Blakely dan David, 1985). Lebih lanjut menyatakan pengeluaran telur dirangsang oleh cahaya sehingga merangsang dan meningkatkan suplai FSH. Hormon ini pada gilirannya melalui aktivitas ovari mengakibatkan terjadinya ovulasi dan oviposisi.

6. Sifat Mengeram. 
Induk ayam mengeram diakibatkan oleh pengaruh hormon prolaktin dari pituitari anterior, ayam menghabiskan waktu dengan duduk diatas sarang dan menetaskan serta mengasuh anak-anaknya. Bila sifat keibuan ini demikian kuat sehingga induk ayam terus menerus duduk diatas sarang, hal ini merugikan karena pada saat mengeram ayam tidak memproduksi telur (James Blakely dan David, 1985). 

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi R., 1984. Ilmu Makanan Ternak Umum. Penerbit PT Gramedia. Jakarta. 
Bell D.J. and Freeman B.M., 1971. Physiology and Biochemistry of the Domestic Fowl. Volume 3. Academic Press. London New York.

James Blakely and David H. Bade, 1985. Ilmu Peternakan. Edisi keempat. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh Bambang Srigandono dan Soedarsono).

Nalbandov A.V., 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Edisi ketiga. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. (Diterjemahkan oleh Sunaryo Keman). 
Rasyaf M., 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

------------- 2003. Beternak Ayam Petelur. PT Penebar Swadaya. Jakarta. 

ESTRUS, PROSES KEBUNTINGAN DAN KELAHIRAN TERNAK

ESTRUS
Estrus merupakan masa dimana ternak mempunyai keinginan untuk kawin.Pada proses estrus, terdapat 4 fase yakni, proestrus, estrus, metestrus, dan diestrus.Fase-fase ini terjadi dalam satu siklus.
  • Fase proestrus dimulai dengan regresi CL sehingga progesterone terhenti. Pada fase ini terjadi pertumbuhan folikel yang sangat cepat, sehingga pada akhirperiode ini adalah efek estrogen pada sistem saluran dan gejala perilakuperkembangan estrus yang dapat diamati. Berlangsung selama 2-3 hari dan dicirikanadengan pertumbuhan folikel dan produksi estrogen. 
  • Fase estrus merupakanperiodeketika betina reseptif terhadap jantan dan akan melakukan perkawinan. Ovulasiberhubungan dengan fase estrus, yaitu selesai fase estrus. Kira-kira setelah 12-14 jam,fase estrus mulai berhenti. Selanjutnya betina tidak mengalami ovulasi hingga setelahfase estrus.
  •  Fase metestrus, diawali dengan penghentian fase estrus. Umumnya faseini merupakan fase terbentuknya CL sehingga ovulasi terjadi selama fase ini. Fase iniditandai dengan berhentinya birahi secara tiba-tiba. Berlangsung selama 3-5 hari.
  • Fase diestrus, merupakan fase CL bekerja secara optimal. Pada fase ini, progesteronedalam darah meningkatdan diakhiri dengan regresi CL. Fase ini juga disebut denganfase persiapan uterus untuk kebuntingan. Fase ini merupakan fase terpanjang darisiklus estrus yakni berlangsung selama 13 hari. Terjadinya kebuntingan atau tidak,CL akan berkembang menjadi organ yang fungsional yang akan menghasilkansejumlah progesterone. Jika ovum yang dibuahi mencapai uterus, maka CL akanmenghasilkan progesterone yang akan mempertahankan kebuntingan. Jika ovum yangtidak dibuahi sampai ke uterus maka CL akan berfungsi selama beberapa hari setelah itu, CL akan mengalami regresi dan akan masuk pada siklus estrus yang baru (Imron, 2008).

 Proses Ovulasi
Yang dimaksud dengan ovulasi adalah pecahnya folikel yang telah masakdisertai keluarnya ovum dari folikel tersebut (Luqman, 1999). Pertama-tama yaknidimulai dengan perkembangan folikel yang berawal dari folikel primordial yanghanya dikelilingi oleh sedikit sel granulose yang didalamnya telah terdapat oosit.Kemudian berkembang menjadi folikel preantrum yang bercirikan dengan adanyazona viteline dan zona pellucid serta dikelilingi oleh sel granulose yang lebih banyakdibandingkan pada tahap folikel sebelumnya. Selanjutnya yaitu folikel antrum,dimana pada folikel ini terdapat rongga (antrum) yang di dalamnya terdapat cairanfolikel yang mengandung hormon estrogen. Tahap terakhir adalah folikel preovulasi(de graff), pada tahap ini terbentuk cumulus oophorus, theca interna serta thecaexterna. Pada folikel inilah akan terjadi proses ovulasi.
Selain penjelasan diatas, terdapat pula penjelasan mengenai proses ovulasiyakni proses ovulasi terbagi menjadi dua bagian, secara hormonal dan secara neural,berikut penjelasanya :
a.      Hormonal 
b.      Setelah folikel-folikel tumbuh karena pengaruh hormon FSH dari pituitarianterior,maka sel-sek folikel mampu menghasilkan estrogen dan progesteron. Keduahormon ini dalam dosis kecil akan menyebabkan terlepasnya hormon LH. HormonLH memegang peranan penting dalam menggertak terjadinya ovulasi. Pecahnyafolikel terjadi adanya tekanan dari dalam folikel yang bertambah besar danpersobekan pada daerah stigma yang pucat karena daerah ini kurang memperolehdarah (http://www.wordpress.com/prosesreproduksi/26.08.09/00.30 AM
c.       ).
d.      b. Neural :
e.       Rangsangan pada luar servik, baik pada saat kopulasi atau kawin buatan akanditeruskan oleh saraf ke susunan saraf pusat yang akan diterima oleh hipotalamus.Nantinya akan disekresikan LH realising hormon dan kadar LH dalam darah akanmeningkat sehingga mengakibatkan ovulasi.

Proses Fertilisasi
Fertilisasi (pembuahan) adalah peristiwa bersatunya antara spermatozoadengan sel telur (ovum), dimana spermatozoa berasal dari hewan jantan dan ovumberasal dari hewan betina. Dikarenakan spermatozoa dan ovum berasal dari dua selyang berbeda, maka untuk dapat saling bertemu dan bersatu, keduanya tersebut harusmelalui perjalanan panjang dan mengalami proses persiapan serta tempat untukbertemu juga harus memenuhi syarat bagi spermatozoa dan ovum (Poernomo, 1999).
Proses ini sendiri dimulai dengan pematangan (maturasi) sel telur dan spermatozoa. Pematangan sel telur dimulai pada waktu proses pembelahan meiosis dari profase I menjadi masak selama folikulogenesis. Sedangkan spermatozoamemerlukan perubahan maturasi yang terjadi selama 10-15 hari ketika melewatiepididimis. Perubahan maturasi spermatozoa bergantung pada sekresi epididimis danwaktu transport yang sangat penting untuk dapat membuahi sel telur. Proses fertilisasipada mamalia memerlukan tiga kejadian kritis yaitu : sel spermatozoa harus menembus diantara sel-sel cumulus dengan bantuan enzim hyaluronidase, selspermatozoa harus menyentuh dan menembus lapisan zona pellucid,dan penyatuanspermatozoa dengan membran plasma sel telur (Luqman, 1999).
Proses fertilisasi, pertama-tama di mulai dengan transport spermatozoa kedalam saluran reproduksi betina. Pertama, spermatozoa akan memasuki vagina,dimana akan terjadi seleksi dengan adanya perbedaan pH antara spermatozoa (pH=7)dan vagina (pH=4). Setelah melewati vagina, spermatozoa yang telah terseleksi akanmemasuki serviks. Dalam serviks, hanya spermatozoa yang normal yang dapat lewat,hal ini dikarenakan spermatozoa yang normal dapat bergerak melewati cincin-cincinanulir pada serviks. Sampai akhirnya menuju uterus, dimana mengalami proseskapasitasi yakni proses pendewasaan spermatozoa oleh cairan endometrium sehinggaspermatozoa dapat menembus lapisan-lapisan sel telur dan mempermudah terjadinyafertilisasi. Tempat utama terjadinya proses kapasitasi adalah pada AIJ (AmpullaIsthmus Junction). Selanjutnya yakni, transport sel telur untuk menuju AIJ dimulaipada saat menjelang ovulasi, pada saat itu estrogen dominan dan bersama oksitosinakan menyebabkan terjadinya derakan peristaltik yang aktif. Setelah terjadi ovulasi,sel telur akan mendarat pada permukaanfimbrae yang terdapat pada infundibulum Dengan adana gerak peristaltik tersebut, sel telur akan terdorong masuk hingga ampulla hingga mencapai AIJ (Anonim, 2009).
Pada saat spermatozoa mencapai AIJ dan bertemu dengan ovum, maka akanterjadilah proses fertilisasi. Proses ini dimulai dengan penembusan kepalaspermatozoa ke dalam ovum, dimana pada akrosome spermatozoa terdapatenzim hyaluranidase yang membantu proses penembusan cumulus oophorus. Setelah spermatozoa menembus lapisan cumulus oophorus, maka selanjutnya akan terjadisentuhan kepala spermatozoa pada zona pellucid. Secara normal, setelah spermatozoapertama masuk, maka tidak akan ada lagi spermatozoa lain yang dapat masuk hal inidisebabkan oleh adanya reaksi zona, yakni suatu mekanisme pada zona pellucida untuk mengadakan perubahan setelah masuknya spermatozoa pertama dan menghalangi masuknya spermatozoa berikutnya. Setelah menembus lapisan pellucida, spermatozoa kemudian menyentuh permukaan lapisanvitel line, denganbegitu akan merangsang pembebasan zat yang dihasilkan oleh granulo kortikosehingga lapisan vitellin akan menebal, hal ini kemudian dinamakan dengan blokade vitellin (Luqman, 1999).


Kebuntingan, Kelahiran dan Menyusui

1. Kebuntingan
Kebuntingan merupakan proses dimana suatu ternak telah memiliki zigotataupun embrio yang kemudian berkembang menjadi fetus. Peristiwa ini terjadisesudah proses fertilisasi dan penyatuan ke dua inti dari spermatozoa dan ovum, dandiakhiri dengan proses kelahiran.
Proses awal dari kebuntingan ini adalah fertilisasi yakni pembuahan antaraovum dan spermatozoa, yang selanjutnya berlanjut hingga penyatuan inti sel diantarakeduanya. Selama beberapa hari ovum yang telah dibuahi disebut sebagaiz igot atau
embrio yang hidup bebas di dalam oviduct (tuba fallopii) atau uterus induk. Pada saat
embrio tersebut mencapai uterus, sel tunggal ini akan mengalami pembelahan selselama beberapa kali tanpa pertambahan volume sitoplasma, proses pembelahan seltanpa pertumbuhan ini disebutcleavage (Luqman, 1999).
Pada waktu jumlah sel dalam zona pellucid mencapai 32 buah, embrio kinidisebutmor ula. Cairan mulai terlihat, terkumpul di antara beberapa sel dan terbentuksuatu rongga bagian dalam yang disebutblastocole, sedang embrio kini disebut
blastocyst. Pada waktu blastocole telah terbentuk, maka tubuh embrio seakan-akan
terbagi menjadi dua, karena ada bagian sel yang tumbuh membentuk sel-sel tipis dibagian permukaan, yang menyelubungi hamper seluruh bagian blastocole. Bagianyang menyelubungi ini disebuttr ophoblas t, sedang bagian yang diselubungi disebut inner cell mass. Dalam pertumbuhan selanjutnya trophoblast akan tumbuh menjadi plasenta, sedangkan inner cell mass tumbuh menjadi makhluk baru yang akan lahir (Luqman, 1999).
http://htmlimg1.scribdassets.com/hubnc1qo81xdveo/images/16-11a8073d07/000.jpg
Berikut adalah gambar dari proses embryogenesis yakni proses kebuntingan, berawal dari 1 sel, 2 sel, morula, hingga blastocyst
(http://www.fkhunair/bahanajar/ilmu mugidah/embryogenesis/20.08.2009/7.43PM).