Kamis, 28 Februari 2013


PENGENALAN BAHAN PAKAN SECARA MIKROSKOPIS


            NAMA                        : MISRIANTI B
            NIM                            : I 411 09 262
            JURUSAN                  : TEKNOLOGI HASIL TERNAK
           


Unhas Black

LABORATORIUM AGROSTOLOGI
JURUSAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Keberhasilan usaha dalam bidang peternakan sangat ditentukan oleh tiga faktor yang sama pentingnya yaitu breeeding (pemuliabiakan, bibit), feeding (pakan) dan management (tata laksana).  Namun jika dilihat dari total biaya produksi dalam usaha peternakan, maka kontribusi pakan adalah yang paling tinggi sekitar 75%. Dalam peternakan manajemen pemberian pakan sangatlah penting, baik pakan yang berasal dari hijaun, sisa hasil pertanian dan lain-lain
Selain itu peternak juga biasanya tidak memperhatikan sebenarnya selain pakan yang berasal dari rumput-rumputan sebagai sumber protein ternyata masih ada bahan yang mengandung sumber protein yaitu tepung bulu, konsentrat dan dedak, dimana dari beberapa bahan tersebut terdapat perbedaan ukuran partikel dan warna yang telah diamati dibawah mikroskop. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum mengenai Pengenalan Bahan Pakan Secara Mikroskopis.








Tujuan dan Kegunaan
            Praktikum ini bertujuan untuk melihat beberapa jenis bahan pakan dibawah mikroskop kemudian perbedaan dari bahan pakan yang satu dengan pakan yang lainnya berdasarkan warna dan ukuran partikel bahan pakan.
Kegunaannya adalah agar peserta praktikum dapat mengetahui perbedaan bahan pakan setelah dilihat menggunakana mikroskop berdasarkan warna dan ukran partikel dari pakan.














TINJAUAN PUSTAKA
Bahan Pakan Secara Mikroskopis
1.      Jagung
Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum.  Jagung mempunyai kadar triptofan yang rendah.  Yang paling rendah adalah kadar methioninnya, kemudian lisin.
Karena glutenin itu mengandung lisin lebih tinggi daripada zein, jagung baru ini mengandung lisin hampir dua kali lipat dibandingkan dengan hibrida jagung.  Cronwell, dkk mendapatkan bahwa ransum ayam ditambah dengan methionin, kemudian dibandingkan dengan pemberian Opaque-2 dengan tingkat yang sama dengan ransum memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hibrida jagung biasa (Wahyu, 1985).
2.      Tapioka
Tapioka, tepung singkong, tepung kanji adalah tepung yang diperoleh dari umbi akar ketela pohon dalam bahasa indonesia yaitu singkong. Tapioka memiliki sifat fisik yang serupa dengan tepung sagu, sehingga penggunaan keduanya dapat dipertukarkan (Anonima, 2011).
Tepung tapioka yang dibuat dari ubi kayu mempunyai banyak kegunaan, antara lain sebagai bahan pembantu dalam berbagai industri. Dibandingkan dengan tepung jagung, kentang, dan gandum atau terigu, komposisi zat gizi tepung tapioka cukup baik sehingga mengurangi kerusakan tenun, juga digunakan sebagai bahan bantu pewarna putih (Anonimb, 2011).
Ampas tapioka banyak dipakai sebagai campuran makanan ternak. Pada umumnya masyarakat kita mengenal dua jenis tapioka, yaitu tapioka kasar dan tapioka halus. Tapioka kasar masih mengandung gumpalan dan butiran ubi kayu yang masih kasar, sedangkan tapioka halus merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dan tidak mengandung gumpalan lagi (Anonimb, 2011).
Kualitas tapioka ditentukan oleh beberapa faktor,  yaitu (Anonimb, 2011) ;
Ø  Warna Tepung; tepung tapioka yang baik berwarna putih.
Ø  Kandungan Air; tepung harus dijemur sampai kering benar sehingga kandungan airnya rendah.
Ø  Banyaknya serat dan kotoran; usahakan agar banyaknya serat dan kayu yang digunakan harus yang umurnya kurang dari 1 tahun karena serat dan zat kayunya masih sedikit dan zat patinya masih banyak.
Ø  Tingkat kekentalan; usahakan daya rekat tapioka tetap tinggi. Untuk ini hindari penggunaan air yang berlebih dalam proses produksi.
3.      Tepung Rese/Limbah Udang
Tepung limbah udang merupakan limbah industri pengolahan udang yang terdiri dari kepala dan kulit udang. Proporsi kepala dan kulit udang diperkirakan antara 30%-40% dari bobot udang segar. Faktor positif bagi tepung limbah udang karena adalah produk ini limbah maka kesinambungan penyediaannya terjamin sehingga harganya cukup stabil dan kandungan nutrisinya bersaing dengan bahan baku lainnya. Warna astaxanthin yang mempengaruhi pigmentasi pada warna kuning telur. Secara keseluruhan tepung limbah udang dipakai sebagai pengganti tepung ikan atau bungkil kedelai sampai batas tingkatan 12% (Agustian dan Purwanti, 2009).




 Perbandingan nutrisi tepung limbah udang dengan tepung ikan

 Nutrisi                           Tepung limbah udang                 Tepung ikan
Air (%)                                    10,32                                      10,32
Abu (%)                                  18,65                                      14,34
Protein (%)                              45,29                                      54,63
Methionin (%)                         1,26                                          1,30
Lisin (%)                                 3,11                                           3,97
Sistin (%)                                0,51                                          0,53
Triptophan (%)                        0,39                                          0,43
Lemak (%)                              6,00                                          9,85
Serat Kasar (%)                       17,59                                          1,99
Kalsium (%)                            7,76                                           3,34
Phospor (%)                            1,31                                           2,18
Energi Bruto                       3577 kkal/kg                           4679 kkal/kg
 Sumber : Lab. Ilmu Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, IPB
4.      Tepung Bulu
Tepung bulu merupakan sumber protein dan sistin yang baik dan dapat memenuhi kebutuhan unggas. Akan tetapi, penggunaannya sangat dibatasi oleh defisiensi terhadap beberapa asam amino, seperti methionin, lisin dan histidin. Tepung bulu biasanya berisi sistin sebanyak 4,5-5,0% dan sekitar 60%nya dapat dicerna. Kandungan energinya sangat tinggi, sekitar 330kkal/kg. keragaman kualitasnya bergantung pada proses pengolahannya (Amrullah, 2002).

Cara pembuatanya yaitu bulu dikeringkan sebagian dan kemudian dikukus agar dapat dihidrolisis, makin tinggi suhu dan makin lama, hidrolisis akan semakin sempurna. Akan tetapi, jika terlalu panas atau terlalu lama asam amino lisin akan rusak (Amrullah, 2002).
5.      Kunyit
Kunir atau kunyit (Curcuma longa Linn) termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-negara Asia (Agustina dan Purwanti, 2009).
Kunyit sering digunakan dalam masakan sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan. Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Mg-stearat, Nepagin dan Kolidon 90 (Agustina dan Purwanti, 2009).
6.      Konsentrat

Merupakan campuran dari beberapa bahan makanan dan berfungsi sebagai makanan penguat sumber protein. Umumnya terdiri dari biji-bijian (jagung, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dedak, onggok, gaplek bungkil-bungkil lainnya) dan Molases (Tawaf, 2010).
Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan, kandungan nutrient yang baik pada pakan konsentrat adalah mengandung serat kasar (SK)< 18%, kandungan zat pembentuk energi (TDN) > 60% dan mengandung protein kering tinggi (Arief, 2010).
  Warna konsentrat protein ikan yang dihasilkan memenuhi standar mutu warna yang baik yaitu berwarna agak kekuningan, bahwa tepung ikan yang bermutu baik harus memiliki sifat-sifat tertentu, salah satunya yaitu warna tepung ikan yang baru selesai diolah biasanya berwarna abu-abu. Namun setelah disimpan, warnanya berubah menjadi coklat kekuningan. Akan tetapi, perubahan warna ini tidak mempengaruhi nilai gizinya (Ika, 2011).
7. Bungkil Kelapa
Di Indonesia juga di berbagai negara tropis lainnya bungkil kelapa merupakan salah satu sumber protein yang digunakan dalam pakan ayam. Bungkil kelapa ini mengandung protein kasar sekitar 21,6%. Walaupun kandungan protein bungkil kelapa tergolong cukup tinggi, penggunaanya dalam pakan ayam perlu dibatasi karena tidaktersediaan dan ketidakseimbangan asam amino dan adanya zat penghambat yang mungkin berupa lignin atau bulkiness (Agustina dan Purwanti, 2009).
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menyarankan agar penggunaan bungkil kelapa dalam pakan ayam tidak melebihi dari 20%. Selain itu, sebagian bungkil kelapa dalam pakan ayam dapat digantikan dengan ampas kelapa samapai takaran 3-6% (Agustina dan Purwanti, 2009).


8.      Dedak
Dedak atau bekatul merupakan komponen yang paling umum digunakan sebagai campuran dalam pembuatan pakan.  Bahan baku ini mudah diperoleh dari tempat penggilingan padi dan harganya relatif murah.  Dari hasil analisis, dedak mengandung protein 9,6-10,86%, lemak 0,12-11,9%, karbohidrat 34,18-34,73%, serat kasar 10,73-45% dan air 10,21%  (Ghufran, 2004).
Bahan pakan unggas asal nabati yang paling banyak digunakan adalah dedak halus. Kandungan nutrisi dedak halus adalah sebagai berikut: protein kasar 1890 Kkal/kg dan lemak kasar sebesar 8,3%. Dedak mempunyai kandungan serat kasar 13%. Bangsa unggas tidak mampu mencerna serat kasar lebih dari 4% karena serat kasar inilah yang menjadi faktor pembatas sehingga dedak halus tidak dapat digunakan secara berlebihan (Hidayat, 2009).













METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
            Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum mengenai Pengenalan Bahan Pakan secara Mikroskopis dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 23 November 2011 pada pukul 15.00 WITA sampai selesai bertempat di Laboratorium Agrostologi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.  
Alat dan Bahan
            Alat-alat  yang digunakan dalam praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum mengenai Pengenalan Bahan Pakan Secara Mikroskopis yaitu kamera, cawan petri dan mikoskop.
 Bahan yang digunakan dalam praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum mengenai Pengenalan Bahan Pakan Secara Mikroskopis yaitu tepung tapioca, tepung rese, tepung bulu, ramuan herbal, konsentrat, bungkil kelapa dan dedak.
Metode Praktikum
Pertama-tama mengambil beberapa sampel bahan baku pakan ternak yang ada di meja kemudian mengamati warna dan ukuran partikel dari beberapa sampel yang telah diberikan yaitu secara kasat mata atau tanpa menggunakan mikroskop setelah itu melihat dengan menggunakan mikroskop. Kemudian mencatatnya serta mendokumentasikannya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan mengenai Pengenalan Bahan Pakan Secara Mikroskopis, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Tepung Tapioka
LABORATORIUM AGROSTOLOGI
FAKULTAS PETERAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Tanpa Mikroskop
Mikroskop



             
Keterangan : Perbesaran 20 x 40
Sumber : Data Hasil Praktikum  Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.
Pembahasan
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan mikroskop maupun tanpa menggunakan mikroskop di peroleh hasil  bahwa tepung tapioka  merupakan suatu bahan yang digunakan sebagai pakan tambahan pada ternak, memiliki warna putih dan ukuran partikelnya yaitu halus. Hal ini hal ini sesuai dengan pendapat (Anonimb, 2011) tapioka banyak dipakai sebagai campuran makanan ternak. Pada umumnya masyarakat kita mengenal dua jenis tapioka, yaitu tapioka kasar dan tapioka halus. Tapioka kasar masih mengandung gumpalan dan butiran ubi kayu yang masih kasar, sedangkan tapioka halus merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dan tidak mengandung gumpalan lagi.


Tabel 2. Jagung
LABORATORIUM AGROSTOLOGI
FAKULTAS PETERAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Tanpa Mikroskop
Mikroskop






Keterangan : Perbesaran 20 x 40
Sumber : Data Hasil Praktikum Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.
Pembahasan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan mikroskop maupun tanpa mikroskop diperoleh hasil bahwa jagung merupakan bahan pakan sumber energi dan sangat baik digunakan sebagai pakan tambahan . Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Anonimd (2011), Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum.  Jagung mempunyai kadar triptofan yang rendah.  Yang paling rendah adalah kadar methioninnya, kemudian lisin.




Tabel 3. Subalan Antara Tepung Tapioka dan Jagung
LABORATORIUM AGROSTOLOGI
FAKULTAS PETERAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Tanpa Mikroskop
Mikroskop







Keterangan : Perbesaran 20 x 40
Sumber : Data Hasil Praktikum  Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.
Pembahasan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan mikroskop maupun tanpa mikroskop diperoleh hasil bahwa pada penacampuran antara tepung tapioka dan jagung menghasilkan warna kuning keputihan dan ukuran partikel dapat terlihat dengan jelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonimd (2011), yang menyatakan bahwa warna yang akan dihasilkan yaitu perpaduan antara bahan pakan yang telah dicampurkan. Sedangkan untuk ukuran partikelnya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop sterio dengan kemampuan perbesaran 8-50 kali dan mikroskop compound dengan perbesaran 4-400 kali.   



Tabel 4. Tepung Rese
LABORATORIUM AGROSTOLOGI
FAKULTAS PETERAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Tanpa Mikroskop
Mikroskop






Keterangan : Perbesaran 20 x 40
Sumber : Data Hasil Praktikum  Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.
Pembahasan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan mikroskop maupun tanpa mikroskop diperoleh hasil bahwa tepung rese merupakan bahan pakan yang mengandung protein, memiliki warna kuning kecoklatan dan ukuran partikelnya kecil. Hal ini sesuai dengan pendapat Ika (2011), yang menyatakan bahwa tepung limbah udang (rese) menjadi pakan ternak mengandung semua asam amino essensial, juga    sebagai sumber asam amino aromatik seperti fenilalanin dan tirosin yang    kandungannya lebih tinggi daripada tepung ikan, lisin   cukup tinggi yaitu 4,58% serta sumber asam amino bersulfur (S) dengan kandungan metionin sebesar     1,26 %.





Tabel 5. Bungkil Kelapa
LABORATORIUM AGROSTOLOGI
FAKULTAS PETERAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Tanpa Mikroskop
Mikroskop







Keterangan : Perbesaran 20 x 40
Sumber : Data Hasil Praktikum  Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.
Pembahasan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan mikroskop maupun tanpa menggunakan mikroskop diperoleh hasil bahwa kelapa memiliki warna agak cokelat dan memiliki ukuran partikel yang sedang dan digunakan sebagai pakan ternak unggas khususnya ayam. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonimd (2011), yang menyatakan bahwa merupakan salah satu sumber protein yang digunakan dalam pakan ayam. Bungkil kelapa ini mengandung protein kasar sekitar 21,6%. Walaupun kandungan protein bungkil kelapa tergolong cukup tinggi, penggunaanya dalam pakan ayam perlu dibatasi karena tidaktersediaan dan ketidakseimbangan asam amino dan adanya zat penghambat yang mungkin berupa lignin atau bulkiness





Tabel 6. Subalan Antara Bungkil Kelapa dan Tepung Rese
LABORATORIUM AGROSTOLOGI
FAKULTAS PETERAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Tanpa Mikroskop
Mikroskop






Keterangan : Perbesaran 20 x 40
Sumber : Data Hasil Praktikum  Bahan Pakan dan Formulasi Ransum, 2011.
Pembahasan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan mikroskop maupun tanpa menggunakan mikroskop diperoleh hasil bahwa subalan antara bungkil kelapa dan tepung rese memiliki warna coklat  dan kuning kecoklatan memiliki ukuran partikel sedang. Kontaminasi atau subalan dari suatu bahan pakan dapat mempengaruhi kandungan nutrisi dari bahan pakan atau ransum. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Anonimd (2011), yang menyatakan bahwa pengujian dengan mengamati ukuran dan bentuk partikel bahan menggunakan alat mikroskop. Dalam uji mikroskopis metode TCE (Tetrachorethilene), mikroskop yang digunakan adalah mikroskop sterio dengan kemampuan perbesaran 8-50 kali dan mikroskop compound dengan perbesaran 4-400 kali. Dengan menggunakan alat tersebut ciri-ciri fisik bahan baku bisa diketahui lebih detail, sehingga jika ada kontaminasi bisa terdeteksi.
KESIMPULAN

Kesimpulan
Bersarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Ø  Bahwa tepung tapioka  merupakan suatu bahan yang digunakan sebagai pakan tambahan pada ternak, memiliki warna putih dan ukuran partikelnya yaitu halus.
Ø  Jagung kuning disamping mengandung karoten, juga menjadi sumber energi dalam ransum.  Jagung mempunyai kadar triptofan yang rendah.  Yang paling rendah adalah kadar methioninnya, kemudian lisin.
Ø  Subalan antara tepung tapioka dengan jagung memiliki warna kuning dan putih dan ukuran partikel yang dihasilkan begitu jelas.
Ø  Tepung rese merupakan bahan pakan yang mengandung protein, memiliki warna kuning kecoklatan dan ukuran partikelnya kecil.
Ø  Kelapa memiliki warna agak cokelat dan memiliki ukuran partikel yang sedang dan digunakan sebagai pakan ternak unggas khususnya ayam.
Ø   Subalan atau campuran antara bungkil kelapa dan tepung rese dapat mempengaruhi nilai nutrisinya, memiliki warna kecoklatan dan ukuran partikelnya hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop sterio.
Saran
            Sebaiknya mikroskop yang digunakan lebih baik sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal dan sebaiknya asisten juga menjelaskan patokan ukuran partikel yang sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar